Momen Perayaan Idul Fitri
Perayaan Idul Fitri di Desa Trikoyo tahun ini berlangsung dengan penuh khidmat dan kemeriahan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan, masyarakat desa menyambut datangnya hari kemenangan dengan berbagai kegiatan yang sarat akan nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Salah satu tradisi yang selalu dinantikan adalah pawai obor keliling desa pada malam Idul Fitri. Kegiatan pawai obor dimulai setelah pelaksanaan shalat Isya dan takbiran bersama di masjid desa. Ratusan warga, mulai dari anak-anak, remaja, pemuda karang taruna, hingga orang tua, berbondong-bondong berkumpul dengan penuh antusias. Mereka membawa obor yang menyala terang, menciptakan pemandangan indah ketika cahaya api berderet menyusuri jalan-jalan desa. Suasana semakin semarak dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang menggema, menambah kekhusyukan sekaligus kemeriahan acara.
Pawai obor ini tidak hanya menjadi hiburan atau perayaan semata, tetapi juga memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Obor melambangkan cahaya kemenangan, semangat kebersamaan, dan tekad untuk menyinari kehidupan dengan amal baik setelah sebulan berpuasa. Kegiatan ini juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga, karena semua lapisan masyarakat berkumpul tanpa membedakan usia maupun status sosial. Sepanjang perjalanan, warga desa yang tidak ikut serta berdiri di depan rumah untuk menyaksikan dan memberi semangat kepada peserta pawai. Anak-anak tampak ceria sambil mengibarkan bendera kecil atau mengikuti langkah kakak-kakaknya dengan penuh semangat. Sementara itu, para tokoh masyarakat dan perangkat desa ikut serta mengawal jalannya kegiatan agar tetap tertib dan aman.
Tradisi pawai obor di Desa Trikoyo kini telah menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan. Selain menjaga kearifan lokal, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa cinta terhadap tradisi Islam yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan adanya pawai obor, suasana Idul Fitri di Desa Trikoyo semakin hidup, hangat, dan penuh makna. Bagi masyarakat, momen ini menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang kebersamaan, syukur, dan persaudaraan yang semakin erat.
Momen Perayaan 17 Agustus
Pagi itu, matahari bersinar lembut di langit Desa Trikoyo. Udara segar bercampur dengan semangat kemerdekaan yang terasa di setiap sudut desa. Di lapangan utama, warga sudah mulai berdatangan mengenakan pakaian merah putih. Dari kejauhan, terdengar lantunan lagu “Indonesia Raya” mengiringi prosesi upacara bendera. Suara musik yang bergema dari pengeras suara desa membuat suasana semakin khidmat dan menggetarkan hati. Anak-anak sekolah berdiri tegap, sementara para perangkat desa dan tokoh masyarakat mengenakan seragam lengkap. Saat bendera merah putih perlahan naik ke langit, semua mata menatap haru. Diiringi tiupan angin pagi, kain merah putih itu berkibar gagah, seolah menari diiringi lagu perjuangan “Hari Merdeka” yang bergema riang setelah upacara usai.
Menjelang siang, suasana berubah menjadi penuh tawa dan sorak. Musik dangdut dan lagu-lagu daerah mulai dimainkan melalui pengeras suara, memeriahkan berbagai lomba khas tujuh belasan balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, hingga tarik tambang. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh semangat, sementara orang tua dan remaja bersorak memberi dukungan. Irama gendang dan musik organ tunggal yang dimainkan oleh pemuda desa membuat suasana semakin hidup. Menjelang sore, acara dilanjutkan dengan pentas seni. Grup ibu-ibu PKK menampilkan tari kreasi modern diiringi lagu “Gebyar-Gebyar” karya Gombloh, disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Sementara itu, kelompok remaja desa menampilkan drama perjuangan kemerdekaan, membuat suasana berubah khidmat sejenak sebelum kembali riuh dengan musik ceria penutup.
Ketika malam tiba, lampu warna-warni menghiasi lapangan desa. Warga berkumpul menikmati malam puncak dengan hiburan musik dan pembagian hadiah lomba. Suara tawa, tepuk tangan, dan musik dangdut koplo berpadu menciptakan harmoni kebersamaan yang hangat. Di bawah langit malam yang bertabur bintang, semangat kemerdekaan terasa hidup bukan hanya dalam simbol, tetapi dalam persaudaraan dan kegembiraan seluruh warga Desa Trikoyo.
Pentas Seni Desa Trikoyo
Malam itu, langit Desa Trikoyo tampak cerah, dihiasi gemerlap bintang yang seolah ikut menyaksikan kemeriahan acara Pentas Seni Desa Trikoyo 2024. Lapangan desa yang biasanya tampak lengang, kini berubah menjadi pusat keramaian. Lampu warna-warni menggantung di sepanjang tenda, sementara panggung utama berdiri megah di tengah lapangan, dihiasi bendera merah putih dan ornamen tradisional hasil karya warga sendiri. Suara musik pembuka mulai terdengar, menandai dimulainya acara. Dentuman irama gamelan modern berpadu dengan tepukan tangan penonton yang antusias. Kepala Desa Trikoyo membuka acara dengan sambutan hangat, mengajak seluruh warga untuk menjadikan malam pentas seni ini sebagai wadah kebersamaan dan apresiasi terhadap bakat masyarakat desa.
Tak kalah menarik, ibu-ibu PKK menampilkan tari kreasi nusantara dengan kostum berwarna-warni. Setiap langkah tarian diiringi lagu “Tanah Airku” yang menggema lembut, menciptakan suasana haru dan bangga akan keindahan budaya Indonesia. Suara tepuk tangan membahana di seluruh penjuru lapangan. Menjelang akhir acara, para pemuda desa menampilkan musik band lokal dengan lagu-lagu nasional yang dikemas modern. Lagu “Kebyar-Kebyar” dan “Bendera” membuat semua penonton ikut bernyanyi dan melambaikan bendera kecil di tangan mereka. Sorotan lampu panggung menari di udara, berpadu dengan semangat kemerdekaan yang menyala di hati setiap warga. Acara ditutup dengan pesta kembang api sederhana. Cahaya berwarna-warni menghiasi langit Desa Trikoyo, disertai sorak bahagia dari warga. Malam itu menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kreativitas masyarakat dapat menciptakan momen yang tak terlupakan. Pentas Seni Desa Trikoyo bukan sekadar hiburan, melainkan wujud nyata semangat gotong royong dan kecintaan terhadap seni serta budaya bangsa.